Berterima Kasih Pada Diri Sendiri

Seberapa sering kamu memuji dirimu sendiri atas apa yang kamu lakukan?

Seberapa sering kamu berterima kasih pada dirimu?

Mungkin jawabannya sedikit. Atau mungkin tidak ingat sama sekali kalau kamu pernah mengucap terima kasih atau pujian terhadap diri sendiri.

Bagaimana kalau pertanyaannya dibalik?

Seberapa sering kamu mengutuk dirimu sendiri?

Seberapa sering kamu membandingkan dirimu dengan orang lain lalu merendahkan dirimu sendiri?

Seberapa sering kamu tidak percaya pada dirimu sendiri kalau kamu bisa melakukan hal yang kamu inginkan itu?

Seberapa sering kamu berangan-angan tentang dirimu yang sempurna?

Seberapa sering kamu melupakan tentang dirimu sendiri? Tentang diri yang lupa diapresiasi?

Semua pertanyaan itu kutanyakan pada diriku sendiri dan kalian tahu apa yang kulakukan? Hanya tersenyum kecut! Karena aku tahu kalau aku hampir tidak pernah memuji diriku sendiri. Seringkali merendahkan, menyepelekan, dan bahkan membenci diriku.

Tentu semua bermula dari membandingkan diri sendiri demi sebuah motivasi. Lucu kan? Bukan motivasi yang didapat, malah penyakit yang menggerogoti hati yang merapat!

Izinkan aku bercerita sebentar tentang hal ini,

Setiap harinya keluhan hidup keluar dari mulut atau bahkan dari jemari yang rela mengetik panjang lebar pada teman dengan berlindung dibalik kata “Curhat”. Jika tidak terucap atau tertulis, maka keluhan itu menguap di kepala dan berakhir menjadi sebuah penyakit yang menggerogoti diri lalu membuatku benar-benar membenci diriku sendiri.

Merasa tidak berguna. Merasa tidak berharga.

Hingga suatu hari BTS mengeluarkan album dengan judul “Love Yourself”. Dalam promosinya Suga bilang cara untuk mencintai diri sendiri sesederhana tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain. RM juga bilang bahkan sesederhana bercermin dan memuji diri sendiri adalah bentuk mencintai diri sendiri.

Apa yang mereka katakan cukup membuatku merenung sambil terus menerus membandingkan diri dengan orang lain. Hahahaha bodoh. Sampai akhirnya aku lelah dan untuk pertama kalinya kuberkata pada diriku sendiri;

“Yuk deh jalani aja, jangan banyak mikir dulu ya untuk kali ini. Kalau pun hasil yang dikerjakan jelek, yang penting kita uda usaha. Kalau pun usahanya belum maksimal, yang penting kita sudah mencoba. Kalau pun yang dicoba masih terbilang gampang, yang penting kita nggak ngerasa sia-sia banget”

Hasilnya? Orang-orang bilang aku lambat! Karena aku mengerjakan segala sesuatunya secara perlahan. Tapi tak apa, aku tetap berbicara pada diriku untuk tetap terus berjalan walau rasanya ingin menyerah untuk memperbaiki diri.

Di saat hendak menyerah karena terlalu lelah. Ya, sungguh perubahan itu melelahkan, kawan. Ada sebuah kejadian yang membuatku kembali menatap ke masa lalu. Melihat bagaimana berkembangnya aku hari ini dan KURANG BERSYUKUR-nya aku.

Maka dari itu, mulai saat ini dan seterusnya, apa pun yang terjadi aku akan berterima kasih pada diriku sendiri. Baik hasil apa yang kukerjakan dan kuinginkan tidak berjalan baik.

Hai, diriku yang dulu!

Terima kasih sudah membuat citra sebagai anak yang pemberani meski sebenarnya kau penakut tapi kau berusaha meski berpura-pura hingga beneran berani hehehe. Aku rindu saat dimana aku banyak melakukan hal nekat sepertimu!

Terima kasih sudah nekat untuk berkenalan lebih dulu hanya agar punya teman, padahal kau pemalu tapi berusaha cuek dengan segalanya. Kau membuatku punya banyak teman di hari ini.

Terima kasih sudah berusaha menjadi anak baik dan menjaga nama keluarga, meski kamu belum dapat dibanggakan orangtua!

Terima kasih sudah senang menulis walau hanya karena senang dipuji guru saat itu, tapi lihatlah hari ini aku mendapat pekerjaan karenamu!

Terima kasih sudah mau berjuang untuk melampaui batas bersama dan tidak menyerah walau seringkali mengeluh tiada henti.

Maaf kalau aku sempat tidak percaya bahwa kita bisa melakukan yang kita inginkan. Maaf kalau sampai hari ini aku masih membandingkan dirimu dengan orang lain. Setidaknya mari kita berjuang lagi, agar aku semakin mengenalmu, wahai diriku sendiri.

Terakhir,

Terima kasih kamu masih hidup sampai hari ini dengan baik. Aku tidak akan berekspektasi kalau semuanya akan baik karena biarlah hal buruk terjadi dan akan selalu ada untuk menguatkan kita.

I love you, myself!

4 Replies to “Berterima Kasih Pada Diri Sendiri”

  1. Ganbate put!

    1. aiyoo makasih dang

  2. Super sekali…
    Jadi termotivasi untuk mencintai diri sendiri…

    1. Yuk bareng-bareng mulai berterima kasih pada diri 😀

Leave a Reply