Gue dan Warna Merah

Setahun belakangan ini gue terbilang produktif nulis tetapi sayangnya bukan di blog ini heuheuheu.

Maka dari itu gue mau pelan-pelan menuhin “rumah” ini. Nah kali ini gue mau cerita tentang warna yang awalnya bukan warna favorit gue dan tiba-tiba malah jadi identitas gue sekarang. WARNA MERAH.

Ini bahkan temen-temen gue ngegambar gue pake kerudung merah hahaha

Hampir semua teman yang kenal gue pasti tahu kalau warna favorit gue merah. Bukan karena gue kasih tahu tapi karena mereka lihat barang-barang yang gue miliki hampir semuanya merah.

Di saat itulah gue akan langsung menegaskan bahwa warna merah bukan warna favorit tapi gue TERJEBAK dalam warna ini.

Iya yang ayam itu gue. Lucu kan gambarnya? Hahaha suka.

Dari gue kecil, gue nggak pernah merasa warna favorit itu perlu di saat teman-teman gue akan berebut mengambil barang sesuai warna favorit mereka yang rata-rata warna biru.

Gue tipikal nrimo waktu itu. Barang apa aja yang dikasih ke gue apa pun warnanya gue terima. Karena bagi gue, semua warna itu punya pesona tersendiri di mata gue.

Makanya gue suka heran sama orang yang terobsesi pada satu warna. Emang nggak bosen ya punya barang dengan satu warna?

Ada yang bilang warna itu seperti jimat keburuntungan. Ada juga yang bilang warna favorit mereka itu mempengaruhi bentuk kenyamanan dan kepercayaan diri.

Suatu hari gue ulang tahun dan Oma gue ngasih gue kado yang gue lupa itu apa yang jelas warnanya merah. Gue nerima hadiah itu dengan wajah yang seneng banget. Berhubung gue orangnya seneng-seneng aja dapet hadiah apa pun bentuk dan warnanya.

Sebenarnya warna merah itu warna favorit Oma gue dan menurut dia warna cerah seperti merah sangat cocok untuk anak-anak seperti gue saat itu.

Karena ngeliat gue senang dengan pemberiannya, Oma gue pikir gue suka warna merah seperti dia dan akhirnya dia memutuskan untuk selalu ngasih gue barang yang berwarna merah.

Sejak saat itulah tiba-tiba aja semua keluarga gue punya pikiran kalau gue itu merah dan nggak boleh diganggu gugat. Gue inget banget suatu hari Om gue kasih jam tangan buat semua keponakannya. Jam tangannya sama tapi warnanya beda-beda.

Jujur aja hari itu gue pengen banget ikut berebut. Pengen banget liat jam tangan warna apa yang cocok sama tangan gue. Pengen bisa memilih jam tangan sesuai keinginan gue. Tapi tiba-tiba saja, om gue bilang “Ayu nggak usah ikut milih. Merahnya uda om amanin buat kamu.”

WHAAAAATS?!! *salto*

Ini foto sekitar tahun 2013 saat pertama kalinya ke Jogja. Iya, jam tangan merah itu punya gue. Warna biru dan ungu punya adik gue.

Kejadian kayak gitu tuh terbilang sering dan lama-lama bikin gue baru menyadari kalau semua barang gue hampir semuanya merah. Entah itu sepatu, kerudung, tas, mukenah sampai payung.

Temen gue ampe bilang: “Udahlah put lebih enak punya warna favorit, kita jadi gampang kalo ngasih lo sesuatu.”

Ada satu titik dimana gue sempet kesel banget dan selalu menekankan warna merah bukan warna favorit gue. Menolak apa pun yang berwarna merah hingga suatu hari gue malah merasa aneh ketika gue nggak ngedapetin sesuatu yang berwarna merah.

Rasanya kayak ada yang hilang ketika gue nggak bersentuhan dengan warna merah. Itu warna seolah-olah seperti sudah mendarah daging dalam diri. Bahkan di tes kepribadian pun gue diidentifikasikan dengan warna merah.

“Put, lo aries kan ya? Tahu nggak aries itu elemen api? Yup, merah lagi hidup lo!”

Dibanding berdebat terus, akhirnya gue pun memutuskan untuk mengiyakan dan menjawab warna merah sebagai warna favorit gue.

Toh tiap warna punya pesonanya masing-masing dan bagi gue sekarang, merah adalah warna yang menggambarkan gue hehehe.

Leave a Reply