Janji Yang Harus Diingkari

Teringat kata JANJI rasanya kayak sesuatu yang sakral yang nggak boleh diingkari ya. Baik janji yang dibuat pada orang lain, maupun yang dibuat untuk diri sendiri, semuanya tak patut buat diingkari.

Tapi lambat laun selama gue nonton banyak film, ada kalanya janji-janji yang dibuat oleh tokoh-tokoh film tersebut harus diingkari demi kebaikan, demi sebuah perubahan yang disebabkan oleh fakta lapangan bahwa waktu yang saat ini telah berubah banyak dari waktu saat sebuah janji tersebut dibuat.

Hal ini membuat gue berpikir apakah memang sebuah janji HARUS diingkari ketika sebuah situasi berubah?

Lama berpikir, ternyata gue dihadapi hal yang sama hahaha.

Dulu ketika melihat sendiri mama dirawat karena operasi ginjal, adik bungsu karena DBD, dan papaku yang dirawat karena penyakit ini itu, membuat gue berjanji pada diri gue sendiri bahwa gue akan dirawat di Rumah Sakit hanya karena gue melahirkan. Gue nggak boleh sakit ini-itu yang membuat gue dirawat di Rumah Sakit.

Janji yang sangat menyebalkan, bukan? Mengapa menyebalkan? Karena selama gue bikin janji itu, nyatanya pola hidup gue nggak sehat-sehat banget. Gue mudah sakit, gue mudah sekali flu. Ya, penyakit-penyakit ringan yang selalu gue anggap sepele.

Karena sepele, gue selalu cuek dengan hal apa saja yang ingin tubuh gue sampaikan. Pilek selama 3 tahun saja bisa gue hiraukan hanya karena menganggap ini sepele dan ternyata kesepelean itu yang malah menumpuk dan menyebabkan membran Mukosa dalam hidung gue membengkak, menyebabkan gue pilek terus-terusan hahahaha.

Bulan Agustus, gue sudah mengetahui tentang membengkaknya membran Mukosa dalam hidung gue. Karena enggan mengingkari janji pada diri gue sendiri, gue pun bertanya pada dokter THT gue yang bernama Dr. Gunawan Effendi.

Gue bertanya, “Dok, kalo setelah dioperasi, apakah ada jaminan saya akan sembuh? Dalam artian nggak bakal pilek-pilek lagi?”

Dokter itu hanya tersenyum dan dia berkata, “Gak ada jaminan. Penyakit itu bisa balik lagi kalau pola makan dan istirahatmu nggak sehat. Semua kembali ke pola hidup sehat.”

Gue sempat mengerutkan kening, berpikir beberapa saat hingga gue berkata, “Kalau gitu selama saya berusaha hidup sehat sekarang, saya nggak perlu dioperasi kan, Dok? Operasi ini bukan hal urgent kan?”

Dokter hanya mengembalikan segala keputusannya pada gue. Karena nyatanya kala itu belum terlalu parah. Bulan Agustus adalah bulan Asian Games 2018, sebuah momen yang sangat gue rayakan penuh suka cita dan memberikan efek pada kehidupan gue. Ya, efek itu adalah mulainya gue berolahraga. Gue gak main-main ketika memutuskan olahraga saat itu. Gue bener-bener konsisten karena ada dorongan mengubah pola hidup sehat dari pemeriksaan kala itu.

Gue sudah curi start diet dari akhir bulan Juli, dan semakin efektif kala Agustus gue memutuskan untuk ikut kelas olahraga dekat kantor. Diet gue kali ini gue lakukan dengan mindset yang benar, gue uda nggak sembarang diet lagi. Banyak ilmu yang gue baca terkait tubuh manusia dan kebutuhan nutrisi. Gue menghitung kalori yang dibutuhkan bagi tubuh gue.

Pelan-pelan tapi pasti, tepat di awal bulan Desember, gue turun 10kg selama 6 bulan (ya masih overweight lah sekarang). Gue merasa baik hingga HUJAN datang. Entah gimana tubuh gue kurang bersahabat dengan cuaca hujan yang diromantisasi oleh setiap orang. Entah berapa banyak syair, puisi, sajak, bahkan buku yang didedikasikan untuk HUJAN.

Sayangnya romantisasi pemujaan Hujan itu tak berlaku bagi gue terutama tubuh gue. Gue mudah jatuh sakit, bahkan pilek gue tidak terkendali. Mama semakin khawatir dan dia pun memberi sebuah ultimatum:

“Libur akhir tahun, kamu operasi deh!”

Gue yang sedang berbaring lemah sambil menatap harga-harga destinasi perjalanan yang akan gue rencanakan untuk liburan kali ini pun berakhir mengangguk pasrah. Gue menutup semua aplikasi sambil menatap jauh ke langit-langit kamar. Nggak gue sangka, gue bakal mengingkari janji gue.

Serangkaian pemeriksaan benar-benar membuat gue berpikir ini gila, liburan gue benar-benar bakal dihabisin untuk operasi. Semua rencana-rencana kecil untuk mengeksplor pelajaran baru yang ada di internet pun pupus. Gue berpikir mungkin operasi ini memang rencana terbaik untuk menghabiskan liburan gue.

27 Desember 2018, gue pun dioperasi pengempesan membran Mukosa di dalam hidung gue. Dalam keadaan bius total, gue nggak merasa apa-apa hanya saja mata gue membengkak karena alergi obat. Yeah, alergi gue banyak tapi tak banyak yang terdeteksi.

Infus pertama sakit banget cuy! Iye gue norak banget.

Balik soal janji, gue pikir ini janji yang memang harus diingkari. Semisal tidak, entah tanda-tanda apalagi yang akan tubuh gue isyaratkan agar gue mau mengerti bahwa tubuh ini tidaklah lagi baik. Gue harus lebih banyak mendengarkan mereka, berbicara pada setiap organ bahwa kami adalah satu kesatuan. Nggak hanya tubuh yang mengikuti keegoisan gue dalam mencapai sesuatu, tetapi juga gue yang harus mengikuti apa yang tubuh gue mau, lebih tepatnya mendengar apa yang mereka butuhkan, tubuh yang gue tinggali ini.

Jikalau memang setelah operasi gue kembali sakit, hari ini gue berpikir gue nggak akan menyesal karena sekiranya gue sudah BERUSAHA, daripada tidak sama sekali.

Terakhir, gue pun akhirnya berpikir mungkin janji yang kita buat itu haruslah realistis, sesuatu yang kita tahu kita mampu menepatinya walau semisalnya di masa depan kita tak lagi mampu memegang janji itu. Lalu bagaimana dengan janji-janji Presiden?

Mungkinkah Presiden, Gubernur, dan para wakil rakyat itu berakhir mengingkari janjinya karena kenyataan yang di lapangan telah berubah? Atau memang sedari awal, janji yang dibuat tidak realistis hingga setiap janji harus diingkari? Hmm…

 

-28 Desember 2018, ditulis dengan tangan diinfus hanya karena bosan berbaring di kamar rawat inap ini-

One Reply to “Janji Yang Harus Diingkari”

  1. Tulisanya bagus put.
    Mungkin gw setuju, kalo gw terms nya “udah ga relevan lagi”.
    Semakin dewasa, semakin banyak dinamika, semakin tau prioritas dan semakin sadar bahwa semua hal yg diharapkan gak harus diiyakan dan gak semuanya bisa dilakukan.
    People change and nobody can control it.

Leave a Reply